If love was a bird
Then we wouldn't have wings
If love was a sky
We'd be blue
If love was a choir
You and I could never sing
Cause love isn't for me and you...
Perlahan lagu Usher yang satu itu merayap ke telinga. Anjir, gue dikerjain, nih! Ence memang sableng. Jelas tahu temennya super galau, dengan entengnya dia memilih playlist pendukung suasana.
Apa iya emang gue nggak ditakdirkan untuk akhirnya jadi satu dengan sosok nyaris sempurna bernama Radit?
Ence masih asik entah itu yoga atau apa, yang jelas dia sibuk melipat-lipat kaki dan tangannya di beranda kamarku yang langsung mengarah ke taman. Sengaja kubuka pintu kaca lebar-lebar, agar angin bisa dengan leluasa menyegarkan otak yang mungkin terlalu besar untuk tempurung kepalaku yang terlalu sempit.
Otakku terlalu besar? Mungkin! Terlalu banyak mimpi, tapi hanya sekadar mimpi belaka. Mimpi jadi orang sukses. Mimpi keliling Indonesia. Mimpi berumah tangga di Praha. Tidak ketinggalan, mimpi jadi arsitek hebat. Satu-satunya mimpi yang mungkin mengingatkanku akan sosok ayah. Bahwa aku masih memiliki ayah yang menjadi panutan. Ayah yang seharusnya menemani anaknya beranjak besar dan dewasa. Tugasnya berhenti saat aku berusia 13 tahun.
Entah Ayah yang salah, atau Ibu yang kurang mengerti. Masih teringat di kepalaku. Ayah berteriak kencang di depan pintu ruang kerjanya. Itu bukan Ayah. Mungkin itu monster yang menjelma, mencoba mengobrak-abrik rumah tangga orang lain. Ibu juga sudah kepalang basah. Melempar tumpukan kertas gambar Ayah. Maket rumah-rumahan yang dua hari sebelumnya dibanggakan padaku dan pada Sati, adik perempuanku.
Aku hampir-hampir tidak bisa menangis menyaksikan adegan itu. Sati meraung-raung, mendekap boneka pandanya dan tanganku erat-erat. Sempat kulihat Ayah menengok ke arahku, dan ketika mata kami bertatapan aku yakin sekali beliau mendengar mataku berteriak 'kenapa' keras-keras.
Tidak ada yang bisa menjawab. Tidak ada yang bisa dijawab. Tidak ada yang bisa menjelaskan dan dijelaskan. Yang kutahu, sejak hari itu, kamar kerja Ayah tertutup rapat. Dan tidak sekali pun aku melihat lagi kepulan asap rokok dari dalamnya dan sepatu warna walnut keluar dari dalamnya. Tidak sekali pun hingga Ibu memutuskan kembali ke rumah Eyang Putri di Jogja tepat ketika usia ku 17 tahun.
Bagai kapal yang kehilangan jangkar, aku terombang-ambing di samudera yang luas. Perpisahan itu tidak hanya membuat aku terpisah dari Ayah. Tetapi juga Ibu, terlebih ketika aku memutuskan untuk kuliah di jurusan teknik arsitektur. Hampir setengah tahun Ibu tidak berbicara padaku, seolah hanya Sati satu-satunya anak yang beliau lahirkan. Semua perintah dan pertanyaan datang lewat Eyang Putri. Atau Sati. Atau Bi Jali yang setia membukakan pintu jam 3 pagi sekalipun saat aku harus lembur.
Kalimat pertama yang Ibu lontarkan padaku adalah sebuah pernyataan, yang secuil pun tidak menggetarkan hatiku. Ibu akan menikah lagi.
Membawa ku ke rumah ini pada usia 19 tahun. Memperkenalkanku pada Mota, anak semata wayang Ayah Padre. Adalah aneh ketika kamu memperoleh saudara baru pada usia 19 tahun dan bukan 9 tahun. Sati bagitu senang saat itu. Usia mereka sebaya, hanya terpaut satu tahun. Keinginan Sati tercapai. Memiliki seorang saudara laki-laki yang bisa menemaninya pergi ke acara-acara di sekolah saat tidak ada laki-laki yang berstatus pacar.
Ayah Padre memang baik. Tetapi tidak bisa menggantikan sosok Ayah. Hal yang tidak dapat kujelaskan secara nalar kini adalah betapa Ayah Padre dan Mota sangat dekat denganku. Melebihi ikatan darah yang kumiliki dengan Ibu dan Sati, karena mereka kini bagai berada di televisi. Terlihat, namun tidak dapat kurasakan sentuhan kehadirannya.
Mota lebih paham aku dibanding Sati. Sati sibuk dengan dunianya sendiri dalam sebuah bola kaca. Tak terjangkau. Kami sama-sama ingin melupakan lubang hitam masa lalu, tetapi memilih jalan yang berbeda. Dia mencari kebahagiaan pada orang lain. Sementara aku, menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan, yang mana aku sangat yakin tidak akan meninggalkanku dan selalu ada disana baik aku menginginkannya ataupun tidak, right?
"Ngelamun aja, nih?" Mota menampilkan cengiran khasnya di ambang pintu.
"Idih, panjang umur!" celetukku mencoba menepis lembar nostalgia yang baru saja melintas di kepalaku.
"Panjang umur apa? Ah, diomongin ni pasti gue!" seru Mota kemudian menyandarkan tubuhnya di pinggir tempat tidur.
"Sok tenar! Ngomongin sama siapa coba gue? Guling? Lo liat sendiri Ence lagi bertapa noh mencari jati diri sebenernya cewek atau perempuan!!" semprotku asal.
"I hear thaaat!!" Ence berteriak membelakangi kami.
Mota tergelak mendengarnya. Tawa yang begitu tulus. Betapa kini aku berterima kasih pada Tuhan, bahwa jika perpisahan kedua orangtua ku adalah jalan untuk bertemu dengannya, maka memang harus inilah jalan yang ditempuh. Mota begitu memperhatikan sekelilingnya. Ketulusannya akan menyentuh hati orang paling beku sekali pun.
"Apaan sih lo, Mbak? Ngeliatin gue sambil senyum-senyum sendiri! Gila ya lo?"
"I loooove you soooo much, Dimo Yudhistira!! Sini gue peluk dulu sini!!"
"Aih, sintingnya orang satu ini. Mabok apa sih lo? Diketekin lagi sama si Ence yaaa?? Peluk cowo lo sono! Eh, anyway, ngomong-ngomong tentang cowo, kapan nikah ni elo sama Radit? Kan gue pengen cepet-cepet timang ponakan, pasti doi bangga banget punya om kaya gue!"
Yaaaaak!! Bahkan Mota pun menanyakan hal yang sama!
"Nggak tau! Gue juga penasaran ni kapan! Besok deh gue tanyain ke Radit nya juga! Lagian ni yaa, tumben amat lo nanyain gue nikahnya kapan. Terakhir kita ngobrol, elo sendiri yang bilang udah nggak usah dipikirin biar gue meweknya berhenti?"
"Hehe, bukan gitu.. Soalnya ni tadi pas gue jemput Sati, dia nyeletuk ke gue..."
Belum selesai Mota menceritakan adegan jemput menjemputnya dengan Sati, si gadis topik pembicaraan menghambur ke dalam kamar memelukku cepat dan berteriak setengah menahan tangis,
"I'm getting married, honey!"
Picisan, tapi sumpah, ini memang seperti disambar petir di siang bolong. Masih di dalam dekapan Sati yang cukup membuat sesak nafas, bisa kulihat mata Mota yang seolah berkata ini-tadi-yang-mau-gue-kasih-tau-tapi-si-oknum-udah-masuk-duluan.
Bagaimana mungkin semuanya serba kontradiktif seperti ini? Di saat aku bingung hendak membawa hubungan ke jenjang yang mana lagi, dengan tidak santainya adik perempuanku satu-satunya mengumumkan bahwa dia akan mengucapkan selamat tinggal pada status lajangnya?
Sati perlahan melepas pelukannya, berganti dengan air mata membanjiri wajahnya dan bahu yang mulai naik turun siring dengan nafas memburu.
"Are you serious?" tanyaku lagi. Masih tidak percaya. Belum ada tiga bulan Anet berencana menikah, sekarang Sati hendak menyusulnya. Emang lagi ada lomba kawin apa??!! Setdaaah!
"One hundred percent, sissy!"
Lagi, tampaknya si petir belum puas menyambar. Sekali lagi dia menyetrumku lewat kata-kata Sati yang meskipun terbata-bata, kurasakan juga keyakinannya. Berusaha mengikuti alur suasana, aku menghapus air mata Sati yang mulai berkurang.
"Why you have to cry now, then?"
Sati justru menangis lebih hebat. Kali ini tanpa suara, sehingga kepedihannya justru semakin terasa. Dan demi melihat Ence mulai bangkit dari ritual bertapanya, Mota segera menghambur ke pintu kaca dan menguncinya.
"Sorry, dude! Family's meeting!"
Bisa kulihat dengan ekor mataku, Ence mencoba membuka paksa pintu itu yang berbuah nihil. Akhirnya dia pasrah duduk berjemur lagi. Kupandang wajah Sati dalam-dalam. Dan begitu Mota kembali duduk bersama kami, kupanggil lagi namanya.
"Sati?"
Dia menghela nafas panjang. Berusaha menghentikan tangisnya. Kemudian membuka sumbat sebuah botol kenangan yang selama ini ditutupnya rapat-rapat.
"Gue takut, Gendis. Betapa gue bahagia saat ini, ngga ada yang bisa menandinginya, bahkan ketika gue berhasil mendapat pekerjaan paling hebat yang gue tahu. Tapi gue selalu takut. Naiknya berat badan gue nanti setelah gue nikah bukan apa-apa, melainkan gimana kalo nanti tiba-tiba perahu gue musti karam di tengah jalan sebelum gue sampai ke tujuan?"
Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Mota hanya terdiam, menunduk memainkan kunci mobil yang masih dibawanya.
"Gue takut, gue sangat takut akan mengulang sejarah kelam itu Gendis... Cukup kita aja. Cukup gue. Bukan anak-anak gue nantinya!!" tangis Sati memburu lagi.
Tertoreh luka itu kembali, aku merengkuh Sati ke dalam pelukanku. Hampir tiga belas tahun yang lalu Sati meraung menangis padaku. Dan begitu juga hari ini. Kubelai rambut panjangnya. Kurasakan betapa aku sangat menyayanginya meski seringkali terhalang keegoisan diri masing-masing.
"Sati, we are not our parents. Everyone has their own story. Dan kalaupun nantinya kita mengulangnya, itu karena kita ngga mau belajar dari pengalaman. Tapi kita bukan orang bodoh, Sati.. Kita sudah merasakan pahitnya. Kita sudah tau bagaimana rasa sakitnya. Kita pasti bisa mengobatinya, bahkan mencegahnya. Kita akan baik-baik saja, Sati. Kamu akan baik-baik saja.. Kamu akan menikah dan memiliki banyak anak, banyak cucu, dan kehidupan yang begitu bahagia. You deserve it, sweetheart..."
Tangis Sati mulai mereda. Dua kalimat terakhir bagiku adalah doa. Bukan hanya untuk Sati. Tetapi juga untukku. Mimpiku, yang terpaksa terbuang entah kemana. Aku ikut senang. Sati akhirnya menemukan tempatnya untuk mengadu. Namun aku tidak bisa berbohong bahwa kenyataan ini menghantamku, membawaku di persimpangan tanpa petunjuk jalan.
Sati memang tidak melihat mataku. Dia sudah cukup mendengar suaraku dan merasakan hangatnya pelukan seorang kakak.
Tidak dengan Mota. Dia di sana. Memandang ke mataku dalam-dalam. Mencari perasaan yang kusembunyikan rapat-rapat. Satu-satunya orang yang tidak bisa kubohongi di rumah ini, memaksaku untuk meneteskan air mata.
Dan bisa kulihat Mota memalingkan wajahnya jauh-jauh, enggan menerima kenyataan bahwa dia bisa merasakan sakitku juga...
Sabtu, 30 Juli 2011
Senin, 25 Juli 2011
time flies. best friend stayed. :)
happy Monday people!
another week passed here. I still can't believe that time goes that fast even i've been running with it.
tiga minggu sudah. kehidupan disini semakin hari semakin berwarna.
lembur sih ngga pernah absen. sampe2 masuk kosan lewat pager yang udah bolong hihi.
anyway, yang sangat saya banggakan adalah, teman-teman saya yang begitu hebat. i'm very blessed that i can call 'em mine :)
petualangan demi petualangan, kebodohan demi kebodohan, dan hal-hal kecil tapi berarti yang pastinya bakalan susah dilupakan.
maaan, saya ngga tau gimana nasib saya kemaren kalo ngga ada temen-temen saya ini.
kendaraan belum dateng, mapping pas-pasan, dan kadar ketakutan yang kadang melebihi rata-rata. hehe.
@mariaernatalia dan @andriands yang udah kebelet shopping,
sayang di kawah putih cuma ada belerang xp
dan nasib tukang poto, selalu ngga punya poto sendiri. adanya muka saya pasti di camera orang hehe. besoklah saya post bentuk saya setelah tiga minggu d bandung. tentunya habis ngemis-ngemis poto sama orang laen haha.
well, smell ya later people!
happy workday! :D
another week passed here. I still can't believe that time goes that fast even i've been running with it.
tiga minggu sudah. kehidupan disini semakin hari semakin berwarna.
lembur sih ngga pernah absen. sampe2 masuk kosan lewat pager yang udah bolong hihi.
anyway, yang sangat saya banggakan adalah, teman-teman saya yang begitu hebat. i'm very blessed that i can call 'em mine :)
petualangan demi petualangan, kebodohan demi kebodohan, dan hal-hal kecil tapi berarti yang pastinya bakalan susah dilupakan.
maaan, saya ngga tau gimana nasib saya kemaren kalo ngga ada temen-temen saya ini.
kendaraan belum dateng, mapping pas-pasan, dan kadar ketakutan yang kadang melebihi rata-rata. hehe.
sayang di kawah putih cuma ada belerang xp
dan nasib tukang poto, selalu ngga punya poto sendiri. adanya muka saya pasti di camera orang hehe. besoklah saya post bentuk saya setelah tiga minggu d bandung. tentunya habis ngemis-ngemis poto sama orang laen haha.
well, smell ya later people!
happy workday! :D
Sabtu, 16 Juli 2011
live report!
hai!
sudah dua minggu yaa! ngga kerasa!
hehe.
bandung masih dingin. dan saya sekarang lg mabok potongan ni huhu. stres ngerjain potongan skematik kawasan yang yang yang yang yang besok senen dipake buat presentasi. oh tidak.
weekend saya hilang sudah.
dan bosen sudah di ubun2. nungguin temen2 yang dari jakarta ngga dateng2. huhu.
kemaren2 sempat mellooow engga sellow banget. kangen ibu. kangen bapak. bahkan kangen adek saya yang nakalnya sejuta dosa itu.
tapi ternyata saya punya keluarga baru disini. temen2 di kantor yang biarpun cuma dikit bisa ngobatin kangen akan rumah. kantor saya menyenangkan, berasa di rumah. hehe.
ah. sebenernya saya lagi males posting ini. tapi daripada tidur trus kebablasan sampe ngga tau kapan kan yaa mending saya melakukan hal-hal yang mengasah otak sedikit, poto2 pake webcam misalnya.
seru! cobain deh!
sudah dua minggu yaa! ngga kerasa!
hehe.
bandung masih dingin. dan saya sekarang lg mabok potongan ni huhu. stres ngerjain potongan skematik kawasan yang yang yang yang yang besok senen dipake buat presentasi. oh tidak.
weekend saya hilang sudah.
dan bosen sudah di ubun2. nungguin temen2 yang dari jakarta ngga dateng2. huhu.
kemaren2 sempat mellooow engga sellow banget. kangen ibu. kangen bapak. bahkan kangen adek saya yang nakalnya sejuta dosa itu.
tapi ternyata saya punya keluarga baru disini. temen2 di kantor yang biarpun cuma dikit bisa ngobatin kangen akan rumah. kantor saya menyenangkan, berasa di rumah. hehe.
ah. sebenernya saya lagi males posting ini. tapi daripada tidur trus kebablasan sampe ngga tau kapan kan yaa mending saya melakukan hal-hal yang mengasah otak sedikit, poto2 pake webcam misalnya.
seru! cobain deh!
Kamis, 07 Juli 2011
here i am, bandung :)
did i mention before that i'm going to bandung for two months doing something called internship, didn't i?
yeah, here i am.
saya sudah di bandung. sudah bekerja hampir satu minggu. kantor nya menyenangkaan! saya bersyukur bgt bisa dapet kesempatan kerja di LABO. sebuah biro arsitektur di bukit dago utara.
jarak kantor dari kosan deket banget. 5 menit aje. tinggal ngesot juga udah sampe. nggak ding, berlebihan, nanti sampe kantor yang ada besot-besot semua kaki sama tangan.
yang jelas, saya kedinginan. baik itu di kantor maupun di kosan. haha.
kampungan? emang!
hihihi. biasanya di jogja kepanasan. yang paling dingin di jogja juga lewaat kalo sama hawa sini.
saya belum sempat maen2 kemana gitu. blm apal jalan. nanti yaa. pasti di post yang lebih seru deh. sekarang sih akrab2 dulu sama supir angkot biar ngga dibawa kabur.
yeah, here i am.
saya sudah di bandung. sudah bekerja hampir satu minggu. kantor nya menyenangkaan! saya bersyukur bgt bisa dapet kesempatan kerja di LABO. sebuah biro arsitektur di bukit dago utara.
jarak kantor dari kosan deket banget. 5 menit aje. tinggal ngesot juga udah sampe. nggak ding, berlebihan, nanti sampe kantor yang ada besot-besot semua kaki sama tangan.
yang jelas, saya kedinginan. baik itu di kantor maupun di kosan. haha.
kampungan? emang!
hihihi. biasanya di jogja kepanasan. yang paling dingin di jogja juga lewaat kalo sama hawa sini.
saya belum sempat maen2 kemana gitu. blm apal jalan. nanti yaa. pasti di post yang lebih seru deh. sekarang sih akrab2 dulu sama supir angkot biar ngga dibawa kabur.
missing
bahwa kangen itu nggak harus sama seseorang.
bahwa kangen itu bisa mendadak muncul.
bahwa kangen itu seperti rasa-rasa biasanya yang muncul bukan karena disebabkan oleh orang lain.
bahwa kangen itu layaknya ngantuk.
dan sekarang saya kangen.
cuma gara-gara kantor tadi masih sepi. sinar matahari masuk lewat dinding-dinding kaca. dan udara dingin di sini masih berasa.
dan kangen itu bentuk perasaan.
dan saya kangen, tapi nggak sama siapa-siapa.
bahwa kangen itu bisa mendadak muncul.
bahwa kangen itu seperti rasa-rasa biasanya yang muncul bukan karena disebabkan oleh orang lain.
bahwa kangen itu layaknya ngantuk.
dan sekarang saya kangen.
cuma gara-gara kantor tadi masih sepi. sinar matahari masuk lewat dinding-dinding kaca. dan udara dingin di sini masih berasa.
dan kangen itu bentuk perasaan.
dan saya kangen, tapi nggak sama siapa-siapa.
Langganan:
Postingan (Atom)




