Kamis, 27 Oktober 2011

CHAPTER 02. part 4.

Hampir dua minggu sudah. Aku tidak berbicara dengan Radit. Betapa rindu aku mendengar suaranya yang sangat mengganggu itu. Tapi sebagai gadis keras kepala yang baik, tingkat gengsi ku seperti biasa, sudah berada di level yang cukup tinggi. 

Komunikasi kami benar-benar hampir terhenti. Kecuali dengan tingkat kedewasaan yang terus berkembang, kami masih saling mengingatkan makan, minum obat, atau berdoa. Thanks God, there's text message service! Jadi meskipun sampai detik ini tidak ada salah satu dari kami merelakan diri memulai pembicaraan atau bahkan meminta maaf, setidaknya kami masih saling berkirim pesan singkat.
Pesan singkat dalam arti yang sebenarnya seperti: 'Jangan lupa makan', 'Jangan kebanyakan kopi', 'Minum air putih', yang berbalas 'Oke' dan 'sudah'. Teknologi memiliki peran yang penting dalam hubungan yang tidak jelas yang kami miliki dan pelihara hampir 3 tahun ini. Jangan salah, kami sama seperti para ABG labil di luar sana. Bahkan semakin mirip di usia yang semakin tua.

Meskipun dengan komunikasi super aneh dan jadwal bertemu yang ogah-ogahan, tidak pernah sekalipun aku meragukan kesetian seorang Radit. Tidak barang semenit pun. Meskipun bukan tidak mungkin orang semapan dan semenarik Radit tidak memiliki keinginan untuk selingkuh. Radit adalah salah satu dari ribuan makhluk yang memberi tanda cek pada kolom laki-laki yang mengetahui betapa menarik dirinya.

Radit selalu bilang dirinya tidak ganteng, selalu bilang 'ah, nggak' atau 'bisa aja' kalau ada orang berkata 'Radit, kamu kok ganteng banget, sih'. Tapi selalu sadar dan langsung jadi orang paling cool dan berstempel 'paling-tampan-sedunia' kalau beberapa perempuan di meja seberang mencuri-curi pandang ke arahnya dan berbisik sambil terkikik pelan. Dia adalah orang yang sangat berbeda ketika berkumpul bersama teman-teman lelakinya dan saat menemaniku pergi ke pesta. Biasanya aku begitu emoh untuk sekedar melirik laki-laki yang sadar muka, tetapi untuk yang satu ini, aku sudah dipaksa untuk mengalah dan memilih berjalan di sebelahnya menghabiskan sisa hidup yang nggak tahu masih seberapa lama diberikan sama yang di atas sana.

Dengan penampilan santai namun tetap terkesan charming dan gentleman, Radit mampu membius gadis-gadis ABG, wanita karir, bahkan pembantu di rumahnya yang meskipun sudah beranak dua masih mengidolakan Mas Radit-nya sehingga tidak pernah absen menyediakan secangkir kopi saat tuannya itu pulang ke rumah, entah itu diminta atau tidak. 

Namun seorang Radit tampaknya akan lebih memilih membius pekerjaan daripada gadis baru untuk diselingkuhi. Meskipun terkesan sadar muka, yeah, he’s another workaholic. Now. Dulu? Dia bahkan tidak bermimpi untuk terjaga jam dua malam demi menyelesaikan proposal design iklan yang dirancang timnya.

Dari situlah, tidak pernah sejenak pun aku merasa terancam akan kehadiran wanita idaman lain yang mampu memuaskan matanya yang mungkin sudah kelelahan menatap layar komputer. Hingga akhirnya buruh-buruh ibukota ini melontarkan pertanyaan-pertanyaan setara wartawan gosip yang mampu membuat rumah tangga pasangan selebritis retak ditempat.

"Tolong dong Ence, itu TV lo di ganti KBS World, please. Udah jam satu nih!" teriak Kinar mendadak setelah, tampaknya, membaca pesan singkat di telepon genggamnya.
"Dih, tumben amat, lo! Biasanya dikasih Fashion TV sama popcorn juga udah ngga beranjak!" Masih heran, aku tetap memberikan remote yang ada di dekat ku ke arah Ence. Dan begitu channel berpindah, Kinar mendadak berteriak kencang tanpa peduli teman-temannya masih membutuhkan telinga untuk mendengar.
"Anjrit, telinga gue woy! Bukan microphone!" Ence tampak gusar, "Kalo sampe gue diusir dari sini, lo bertanggung jawab nyariin gue tempat tinggal yang senyaman ini!"
"Aduh, sorry, deh, sorry! Ini laki kagak nahan deh demi demi! Mau deh gue dinikahin sekarang juga kalo sama dia!"
"Itu mah elo yang ngarep!! Dasar gembel! Mana ada yang nolak kalo dinikahin cowok macem itu? Inget umur tanteeee!! Jelas namanya aja Super Junior! Sementara elo senior nya senior!" sembur Nora kesal, tapi tetap ikut duduk di sebelah Kinar menikmati 'surga dunia' versi mereka.
"Siapa sih ini?" tanya Anet sambil membetulkan letak kacamatanya yang sangat tidak perlu dibenahi, gue yakin banget cuma biar keliatan pinter aja tuh.
"Namanya Choi Siwon. Personil Super Junior paling ganteng! Dan yang lebih penting paling tajir! Lo inget ngga, Ce! Waktu kita ke Korea gratisan itu terus kita ke Hyundai Department Store gara-gara tulisan sale segedhe dosa itu? Punya bokap doi, nih!! Gue ngga peduli dia tiga tahun lebih muda dari gue!!" Kinar tidak berhenti menunjuk-nunjuk layar televisi.
Ence dan aku segera menelengkan wajah ke arah televisi.
"Betapa dunia nggak adil. Sementara gue sibuk cari jati diri dan pasangan hidup, ada aja orang masih muda udah tenar dan banyak duit sedari lahir," Ence berkata dengan nada bercampur sedih, iri, dan setengah naksir.
"Satu lagi, Ce! Setia! Ngga pernah selingkuh! Gila ngga tuh?" Kinar makin menggebu-gebu. Mungkin kalau televisi itu miliknya, layarnya sudah basah diciuminya dengan nafsu.

“Astaga, demi apa, sampe segitunya elo tau seluk beluk kehidupan doi? Jago amat ni si Anet nularin Kinar yang beginian. My Tough Lady jadi nontonin yang beginian! Anyway, ngomong-ngomong setia, lo nggak takut gitu, Ge? Suatu saat lo menemukan Radit lagi gandengan mesra abis ngalahin Jolie-Pitt ato pasangan muda macem Justin Bieber- Selena Gomez?” Ence si tukang gosip lagi-lagi sukar menyegel mulutnya yang penuh dosa. Bagaimana mungkin dari artis Korea dia bisa melipir ke hal-hal beginian?
Nope,” jawabku singkat tanpa mengalihkan pandangan dari majalah pernikahan yang diboyong Anet jauh-jauh dari salon langganannya.
“Radit kan ganteng, Ge! Banyak yang doyan! Lagian status kalian sekarang super nggak jelas gitu.. Ditambah apaan tuh, nggak ngobrol dua minggu, cuma texting bego kaya orang baru kenal handphone. Mana ada jaminan Radit bakalan ngawinin elo?!” Ence mulai menjelma menjadi petasan kawinan khas Betawi.
"Banyak yang doyan termasuk elo maksudnya? Itu sih gue ngga perlu khawatir, Ce! Radit juga bisa bedain mana yang body nya asli mana yang jadi-jadian!" celetukku asal yang menciptakan kerutan-kerutan aneh di wajah Ence.

“Kawin sih pasti bisa, Ce.. Nikah itu yang belum tentu.. Ya nggak, Ge?” goda Nora sambil mengangkat jarinya tinggi-tinggi, berpura-pura melihat hasil karya nail art kuku kebanggaannya. Kinar dan Anet terkikik pelan di depan televisi sebelum kulemparkan lirikan ganas yang akhirnya membuat dua wanita itu segera fokus dengan si ganteng Choi Siwon, anyway untuk sekali ini selera Kinar bisa kumaklumi, sebelum kulempar dengan bantal.

"Ribet amat deh kalian ngurusin gue, dibayar juga nggak. Jangan-jangan ada konspirasi nih sama emak gue yang nanyain mulu kapan gue nikah?"
Kuikat rambutku tinggi-tinggi. Tiba-iba gerah sendiri. Betapa akhir-akhir ini dunia menurutku dengan begitu rempongnya, mengurusi tetek bengek hubunganku dengan Radit. Rasanya justru ingin tertawa hingga sakit perut. Begitu banyak yang ingin tahu apa yang terjadi, bagaimana kelanjutannya, kapan dibawa ke jenjang berikutnya, dan bla bla bla. Tetapi tidak satupun yang menyadari bahwa pertanyaan mereka nyaris sama dengan pertanyaan terpendamku untuk Radit.

Masih teringat saat itu, ketika untuk pertama kalinya aku bertemu dengan orang bernama Radit ini. Ketika itu betapa aku ingin melempar tumpukan kertas yang kubawa ke arahnya karena seenak jidat menabrakku hingga pekerjaanku terlempar dengan sempurna jatuh ke lantai, dan melenggang setengah berlari. Setelah tidak tidur selama 3 hari, otakku benar-benar kacau dan susah diajak bersabar. Berjuta rutukan keluar dari mulutku. Cowok goblok, idiot, anjing, ngga tau sopan santun, brengsek, ngga tau orang lagi capek, bego, kurang ajar, sembarangan, ngga punya mata, dan berbagai isi kebun binatang lainnya.

Entah suaraku yang terlalu keras, pendengaran Radit yang super sonik, atau mungkin dia dibisiki malaikat baik hati, dia tiba-tiba kembali dan membantuku membereskan kertas sambil berulang kali minta maaf. Saat itu setengah gusar setengah marah, aku menerima bantuannya, sambil meneruskan rutukan di dalam hati. Selesai membereskan harta benda yang telah kuperjuangkan seminggu ini, tiba-tiba dia berkata panjang lebar hampir-hampir tidak bisa kupotong.

"Maaf, ya! Tadi gue buru-buru! Nggak maksud nabrak, deh, bener! Tadi gue ngelihat ada orang mirip bokap gue lagi sama perempuan. Gue kira dia udah nikah lagi akhirnya. Maklum, gue masih emosi. Lo tau sendiri kan kalo orang emosi gimana? Tadi gue lari dari depan sana! Takut bokap gue keburu ngilang gara-gara gue! Eh udah capek-capek ternyata bukan bokap gue! Bego banget ya! Haha!"

Dalam hatiku saat itu, 'Siapa elo sih? Bawel banget ketawa garing pula. Astaga!'. Mungkin saat itu wajahku sudah setengah melompong, kaget, belum ada dua bulan akhirnya kuterima pekerjaan sebagai junior arsitek, disembur seorang laki-laki sebegitu cerewetnya dan tanpa tedeng aling-aling membuka aib keluarganya pada orang yang tidak dikenal.

"Oh iya, Rahaditya! Kerja di sini juga?" katanya kemudian sambil mengulurkan tangannya, mungkin sebagai permintaan maaf atau gara-gara melihat wajah memelasku.
Cukup kaget, baru kemudian kupindah kertas-kertasku ke tangan kiri dan menjabat tangannya, yang ternyata aduhai, itu tangan halusnya parah banget! Sampai-sampai aku menuduh orang ini pemalas.
"Eh, Gendis. Nggak, disini mau anter gambar klien aja."
"Arsitek, eh? Hmmm. Boleh boleh. Mau ke lantai berapa?"
Saat itu aku tidak menjawab karena tiba-tiba disibukkan dengan telepon yang berdering dan demi melihat nama yang muncul di layar harus kuangkat sesegera mungkin. Aku berbicara cukup lama. Mungkin ada kali sepuluh menit.
"Jadi mau ke lantai berapa?"
Pertanyaan itu lagi. Aku terheran-heran. Ngapain ni orang masih di sini? Aku pikir laki-laki yang satu ini akan segera minggir jauh-jauh.
"He?!?" Aku sangat yakin. Wajahku saat itu pasti mirip kambing mabok kebanyakan minum pocari sweat. Iya, absurd emang.
Dan laki-laki itu tertawa. Menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Gue nanya, elo mau ke lantai berapa.. Gitu amat deh kaya diajak kawin! Selooow aja kali.."
Untuk saat itu habis sudah kesabaran yang sedari tadi kuirit-irit. Dengan langkah seribu kutinggalkan laki-laki super aneh ini dan melenggang cepat-cepat sebelum dia membuka mulut busuknya sekali lagi.

Entah jodoh entah celaka, klien yang satu ini ternyata menyukai hasil pekerjaanku. Dan semenjak saat itu aku semakin sering ke kantornya untuk membahas setiap detail progress proyek yang kutangani. Dan semenjak saat itu pula, aku semakin terbiasa dengan senyum bodoh seorang lelaki yang mengetahui rutinitas kedatanganku ke kantor itu dan menunggu dengan setia di kafetaria yang kusambangi setelah selesai berdiskusi dengan klien.

Dari senyum bodoh, kemudian milk tea ice, dilanjutkan suatu hari aku ke sana tetapi tidak ada senyum bodohnya. Kebetulan hari itu aku sedang frustrasi, jadi ketidakhadirannya cukup membuat pikiran lebih tenang, meskipun aku mulai merasa kehilangan teman bercerita dan berkeluh kesah, menumpahkan unek-unek tentang klien yang sangat menyebalkan. Baru saja kutempelkan pantatku di bangku berwarna biru itu, seorang pelayan datang meletakkan segelas milk tea ice dan secarik kertas.

"Dari temannya, Mbak.. Minta maaf nggak bisa nemenin, soalnya katanya mau keluar kota seminggu.."
Temen gue yang mana ya? Genk berisik ngga ada yang rencana pergi deket-deket ini. Tidak ada diskon besar-besaran di negara seberang, sangat bisa dipastikan pula Kinar dan Ence akan berada di Indonesia. Kulirik kertas yang ada di sana, dan tertera surat paling konyol yang pernah kuterima seumur hidup.

"Halo, Gendis. Milk tea ice? Maaf loh, this gorgeous man couldn't be there rite now. Maklum, idola bos jadi dikirim tugas ke luar kota. Kalo masih kesepian, telepon aja. Om Girang siap menemani! - Radit"

Di bawah tanda tangan super absurd itu kutemukan nomor hape gratisan. Mau tak mau, kuseruput minuman di hadapanku sambil tersenyum sendiri. Peduli setan ini minuman ternyata isinya racun atau obat bius. Entah apa yang terjadi selama hampir 3 bulan ini, aku akhirnya mengirim pesan super singkat: "Lagi sibuk apa, Om? - Gendis" yang kemudian berbalas telepon, lalu pesan lainnya, ditambah telepon pagi-pagi buta, kemudian pesan singkat di sela-sela deadline, dan oleh-oleh yang tidak kalah konyolnya yang menantiku dua minggu berikutnya.

Voila, semenjak itu aku tidak pergi ke kondangan sendirian. Tidak pergi ke gereja sendirian. Tidak mengantar ibu ke pasar sendirian. Tidak memesan makanan melalui drive thru karena ada yang menemani makan ditempat. Tidak malas mandi karena ada yang sudah menunggu di depan pintu. Tidak sendiri di dalam mobil saat hujan.

Sejenak aku terdiam dan berpikir, apakah semua kenangan ini layak dibalas dengan tindakan bodoh saling berkirim pesan singkat tanpa mau mengalah dan memafkan diri sendiri? Sudah gilakah aku? Atau begitu laparnya kah aku hingga tidak mampu sadarkan diri? Berapa shot yang kuteguk akhir-akhir ini?

"Hoi, perawan tua! Bangun lah! Gimana mau dapet jodoh kalo hobinya melamun aje?" semprot Anet tiba-tiba.
"Iya, nih! Gue tanya mau nikah atau nggak, malah bertapa!" Ence tak mau kalah.
"Gue bego ya?" ucapku lirih, masih menyempatkan diri bertanya pada mereka.
Kinar lalu mematikan televisi, mungkin sudah puas menatap artis idolanya. Dia beranjak duduk di depanku. Menyeret tasku dan mengeluarkan handphone dari dalamnya.

"Elo emang bego. Tapi gue ngga peduli karena pada dasarnya elo selalu bego dan gue juga ngga pinter-pinter amat. Jadi tolong, elo ngga perlu lagi gengsi atau sok jual mahal. Mau berapapun tarif yang lo pasang, Radit definitely can buy! Gue paham banget kalo elo capek. Ngga semua orang punya hubungan sempurna. Bahkan Snow White harus rela keselek dan mati suri sebelum dapet cowok ganteng. Here, please, chase your future.."
Kinar mengulurkan handphone itu, memaksaku menggenggamnya dan berpikir kembali. Perempuan di depanku ini menatap dalam-dalam ke mataku. Dia memang bukan wanita sempurna. Dia adalah gadis konyol yang terjebak di tubuh seorang wanita karir yang setengah matre dan gila belanja. Dia adalah perempuan yang mendesain baju untuk orang lain tetapi memilih kaos polos untuk dipakai sehari-hari. Perempuan yang selalu ku nasihati karena tindak tanduknya yang terlalu impulsif. Perempuan yang sudah terlalu sering menjadi objek kebawelanku.

Sekali ini, bukan aku yang menceramahi Kinar. Kata-katanya barusan jelas menghapus image penyuka berondong Korea yang muncul sebelumnya. Kutekan juga nomor itu. Debar kencang kurasakan ketika menunggu telepon itu disambut di seberang sana.

Tidak diangkat. Aku menggeleng. Kinar berkata coba lagi. Dan kali ini diangkat. Meski bukan Radit.

"Halo, Radit phone's here! Dengan siapa ya?"
Wajahku berkerut heran. Siapa gadis ini?
"Eng, Radit nya di mana ya?"
"Oh, lagi di toilet! Tadi ngga mau saya angkat, tapi telepon lagi. Mungkin penting, jadi saya jawab. Ini dengan siapa kalo boleh tau?"
"Ini Gendis." Ingin kusebut lagi statusku, namun urung, karena bahkan aku pun tidak tahu siapa diriku bagi Radit sekarang ini.
"Ooooh, Mba Gendis.. Ini Betari, Mba.. Radit lagi ke toilet.. Ada pesen?"
"Oh, Ayie. Hmm. Nggak, deh! Nanti aku telepon lagi, bilang aja tadi Gendis telepon."
"Oke! Disampaikan pasti!"
"Makasih, ya.."
"Sama-sama, Mba!!"

Telepon kututup. Wajah-wajah di depanku sudah berebut bertanya bahkan sebelum mulut mereka terbuka.
"Radit di toilet. Itu tadi Ayie yang angkat."
"Ayie? Lagi? Sering ya kayanya Ayie sama Radit.."

Entah apa maksud pertanyaan Kinar barusan. Tapi kulihat Ence langsung memandangku dengan tajam. Yang hanya mampu kujawab dengan diam. Sejuta rasa tiba-tiba membuncah.

Mungkin akhirnya aku bisa cemburu.

CHAPTER 02. part 3.

Resiko punya kamar yang berbatasan langsung dengan taman. Pintu kaca nya selalu memberikan akses yang berlebih kepada sinar matahari. Sama seperti hari-hari Sabtu sebelumnya, dengan terpaksa aku harus membuka mata lebih awal dari jam bangun tidur yang direncanakan semalam. Perlu 15 menit untuk membuat otakku mulai meraba kondisi sekitar. Tapi mataku tampaknya memakan waktu yang cukup lama. Masih dengan terpejam, aku meregangkan otot-otot tangan, yang refleks justru menarik selimut yang entah sudah kutendang-tendang kemana semalam.

Aku tidak suka pake AC, membuat kamarku menjadi satu-satunya kamar yang punya kipas angin di pojok ruangan, yang semalam terpaksa tidak kunyalakan karena bekas hujan membawa angin melimpah yang membuat ku memilih tidur dengan sweat shirt buluk kebesaran milik Radit yang sudah ku stempel hak milik dari satu tahun yang lalu. Belum sempat aku selesai merenggangkan otot-otot di sekujur tubuh, Mota membuka pintu kemudian masuk dan melemparkan roti keju tepat ke arah mukaku.

"Bangun, woi! Pantesan kagak nikah-nikah lo! Gimana mau laku coba kalo perawan jam segini belum bangun?! Eh, lo masih perawan kan, Mbak, tapi?" sembur Mota sambil mengobrak-abrik meja riasku, mencari sesuatu untuk mengikat rambutnya yang gondrong itu.

Bocah yang satu ini, kadang jauh lebih bawel daripada Ibu. Jauh lebih cerewet tentang kelakuanku daripada Eyang.

"Banyak omong! Dari siapa ni roti? Tumben amat ada yang beginian. Ibu ngga masak apa?"
"Itu calon suami lo yang bawain kali! Dia udah melanglang buana beli sarapan, bayangin aja dari rumah doi ke sini, kagak malu lo?"

Demi mendengar omongan Mota barusan, segera kulempar selimut yang tadi susah payah kutarik-tarik. Kuikat rambut sekenanya. Belum sampai aku meraih gagang pintu, Mota sudah menyalak lagi.

"Udah balik doi ngga perlu heboh gitu kali! Mampir doang tadi! Kasih roti sama yoghurt! Tau banget tuh Radit caranya nyogok Ibu. Nggak tanggung-tanggung, Mbak! Pie apel masih panas udah bertengger tu di dapur!"

Dan semangatku langsung melorot. Super ogah-ogahan aku kembali ke kasur, bersandar di kepala tempat tidur sambil membenamkan badan ke dalam selimut.

"Dimakan kali, Mbak.. Udah jauh-jauh bawainnya.. Paling ngga kan udah ada niat dia bela-belain ke sini anter sarapan.."
"Iya, buat Ibu. Nggak buat gue. Buat elo! Ketemunya sama elo."
"Elaaah, timbang ngga ketemu doang. Kaya cuman sekarang bisa ketemunya.. Telepon, gih!"
Mota melepaskan ponselku dari charger-nya kemudian menyodorkan ke depan mukaku.
"Ngga usah gengsi lo, Mbak! Sopan dikit, bilang makasih! Gue minggir dulu deh di sana sambil makan roti kalo lo malu!"
"Ngga perlu! Lo disini aja!" seruku galak. Kuambil ponsel dari tangan Mota dan kutekan nomor itu lagi.

"Pagi, Gege! Udah bangun? Hehe.."
"Udah, barusan! Dilempar Mota pake roti.." sengaja kutekankan kata roti. Entah kenapa, ingin rasanya hari ini aku membuat seseorang merasa bersalah padaku. Padahal seingatku tanggal merah bulanan baru seminggu yang lalu berakhir.
"Ah, iya. Dimakan gih rotinya! Jauh-jauh tuh belinya, sayang kalo dianggurin."
"Masih males. Perutnya ngga enak diisi makanan pagi-pagi!" jawabku masih dengan ketus yang membuat Mota menaikkan alisnya.
"Yah, kebiasaan kan dia.. Tunggu aja dua jam lagi pasti marah-marah perut minta diisi tapi makan siang belum ada di atas meja.."

Tidak kuhiraukan candaan Radit kali ini. Entah kesambet, entah memang sedang sensitif, atau bahkan alter ego ku ingin perhatian lebih banyak dari biasanya.

"Tadi ke rumah jam berapa?" tanyaku masih tanpa semangat.
"Pagian, sih.. Semalem espresso-nya parah, sampe jam 5 tadi ngga bisa tidur, yaudah deh, keluar aja sekalian jalan-jalan mumpung masih pagi kan.. Mampir toko roti, langsung deh bertengger di depan rumahmu, nungguin jam 7, ketok pintu, si Mota yang muncul, terus teriak-teriak manggil Ibu.."
"Kenapa nggak teriak manggil aku?"
"Nyaris, si Mota udah pasang kuda-kuda teriak lagi manggil kamu, tapi kan semalem kamu masih ada kerjaan, pasti capek kan, jadi mending biarin tidur aja.. Lagian begitu sampe rumah kamu mata udah mulai pedes, takut ketemu kamu ngobrol lama, ketiduran malah ngga bisa balik nanti.."
"Astaga, segitunya males ketemu sama aku?"
"Lah. Bukan gitu, Ge.. Kan masih pagi tadi, nggak enak bangunin kamu.. Yakin pasti kamu masih capek semalem begadang juga.."
"Tapi nggak gitu juga, langsung main ngeloyor aja.. Kalo kamu ngantuk ya tinggal bilang, masa iya aku paksa-paksa di sini terus.. Nggak mungkin.."
"Loh kok jadi aku? Tadi itu Mota udah mau bangunin kamu, tapi ngga gue bolehin kali! Ganggu orang tidur namanya kalo maksa dibangunin!"

Anggap aku labil. Tapi begitu kata 'gue' keluar dari mulut Radit, bagiku artinya adalah bendera merah, tanda perang sudah siap dimulai.

"Dibangunin pas lagi capek emang nggak enak, Dit! Tapi boleh kan gue bikin pengecualian buat elo! Gue nggak akan semarah itu dibangunin pagi-pagi kalo emang elo yang dateng!"
"Apaan, sih, Ge! Kenapa jadi sewot gitu, sih? Yaudah lah, maaf kalo tadi aku ngga ketemu kamu! Intinya cuma aku ngga pengen ganggu kamu tidur. Itu aja! Terserah ya, kamu ngerti ato ngga. Kaya ngga pernah ketemu aja, besok-besok juga masih bisa kan.."
"Bedain dong! Ganggu tidur itu buat urusan ngga penting! Dan menurut gue ketemu elo itu penting, Dit! Kaya ngga bisa ketemu? Besok-besok masih bisa? Ngomong sama kaca! Siapa yang makin susah diajak ketemu?"
"Kenapa jadi merembet ke masalah ketemu, sih? Gue emang sibuk, tapi kalo elo minta ketemu juga bakalan gue sempetin, Ge!"
"Bakal disempetin? Demi bangunin gue sebentar buat ngucapin selamat pagi aja lo minta bantuan Mota lempar roti!"
"Kan udah dibilang dari tadi aku nggak mau ganggu tidur orang! Jangan besar-besarin masalah, dong! Masih pagi! You just ruin my weekend!"

Kata-kata terakhir Radit adalah sangat menyakitkan. Bagiku, dikata-katai seperti itu lebih buruk daripada revisi sehari sebelum deadline. Harusnya aku yang marah karena kedatangan Radit ke rumah tanpa sempat bertatap wajah denganku membuatku sudah ngomel panjang sepagi ini.

"Then it's my fault! Iya, gue ngerusak weekend lo! Puas? Nggak usah lah besok-besok sok mampir ke rumah kalo emang ngga mau ketemu gue!"
"Ngomong apa sih kamu? Waras dikit dong, Ge! Kamu kecapekan, ngomong kacau gini, jadi besar-besarin masalah! Non sense! Kaya anak kecil!"
"Kaya anak kecil kamu bilang? Oh, makasih ya! Emang gue manja, gue banyak minta, seenggaknya gue ngga ngata-ngatain orang kurang waras!"
"Tuh kan lagi! Apa kamu emang dilahirin untuk membalikkan kata-kata semua orang? Aku bilang A, kamu bahas sampe aku bilang B! Nanti kalo udah aku bilang B, kamu bakal cerca lagi pake B, lanjut ke C, lanjut ke D, ngga selesai-selesai! Kamu kejar terus sampe aku bingung harus ngomong apa! Dikira kamu aja yang capek? Aku juga capek, Ge, kalo setiap masalah kecil sama kamu jadi besar!"

Terdiam. Aku mulai kehilangan kata-kata. Telak, bagai pencuri ketahuan sedang menyembunyikan barang jarahannya. Lagi-lagi aku hanya bisa mulai terisak. Bodoh memang, memulai perdebatan tetapi di tengah jalan tidak mampu menyelesaikannya karena tidak memiliki amunisi lagi untuk sekedar membela pendapat.
Aku mungkin memang yang sudah mulai tidak waras. Sok tangguh, menyalahkan orang lain karena masalah kecil, membalikkan kata-kata, menyangkal semua penilaian. Kami terdiam cukup lama. Ego ku masih tinggi, sekedar untuk mengucapkan kata-kata untuk mengakhiri pembicaraan yang tidak memiliki esensi sama sekali ini.

"Jangan bikin aku ngerasa bersalah, Ge. Apalagi kalau kamu udah mulai nangis gini. I just can't handle it. Mau ngomong sepanjang apa kalo kamu udah nangis juga nggak berguna.."

Bisa kudengar, helaan nafas panjang dan berat setelah Radit mengatakannya. Bagaimana bisa sekarang Radit yang membuatku merasa bersalah? Padahal jelas-jelas rencana pembicaraan omong kosong ini adalah membuatnya berada di posisi yang tidak nyaman dan merelakan dirinya mengucapkan maaf kemudian kembali menjadi Radit yang akan menuruti permintaan gadis manja dan keras kepala seperti aku.

"Kamu butuh waktu sendiri. Aku ngga akan minta maaf, Ge, karena aku tahu kali ini aku nggak salah. Terserah kamu bilang aku egois. Aku capek, Ge. Aku juga tahu, kamu pasti lebih capek dari ini. Tapi tolong, bukan cuma kamu yang jatuh bangun di sini, Ge.. Aku juga. Silahkan marah, terserah kamu mau sampai kapan. Aku tunggu kamu siap diajak ngomong dengan kepala dingin. Aku mau tidur. Capek."

Telepon ditutup. Aku menghela nafas cukup panjang. Terdiam cukup lama. Demi Radit yang begitu baik mengantar sarapan dan membiarkan aku istirahat karena kelelahan, dimana sopan santunku yang malah menyemburkan amarah? Kamu keras kepala, dan sangat gemar menyalahkan orang lain karena kesempatanmu hilang begitu saja. Suara itu bergema terus di kepala. Silih berganti dengan air mata yang perlahan mengering.

Mataku menatap lurus. Sempat terekam, Mota beranjak keluar dengan malas. Menutup pintu pelan-pelan. Kemudian meninggalkan hening. Dan seorang gadis paling egois.

Selasa, 18 Oktober 2011

Simba ♥

Hi! I am Simba! And I'll protect you! :)


"hooooo....."


and that ridiculous eyebrow are just really like yours! ♥ ♥


Jumat, 14 Oktober 2011

when i hit the 4th year

hello there!
wow! it's quite long from my last post, isn't it?

 
hadiah ulang taon buat @obeell 12 oktober kemaren gara2 ngga bisa bobo malem2 

well, sepertinya saya bakalan jarang-jarang ngepost deh. poto yang di atas juga diambil jam stgh 3 pagi. this schedule is freakin' tight!
bukannya mau sok sibuk, apadaya, ketika udah mau siap-siap posting, mata melirik menangkap selembar kertas bertuliskan KARTU RENCANA STUDI yang dengan sadisnya mencantumkan kata-kata seperti studio tematik 2, kerja praktek, dan pra tugas akhir.

syalalalalalaa!
cukup horor buat saya yang sampai detik ini masih sering menunda pekerjaan sesering saya mengingatkan diri sendiri untuk tidak malas. jadinya ya sama aja, mengumpulkan semangat secepat dia menguap dan ilang aja gitu nggak tau kemana.

my internship's program is already done. but the internship's report is still on the list to glanced. haha. belum selesai juga sampai sekarang karena dengan gapteknya saya malah kebingungan begitu dikasih automated template yang harusnya bikin gampang.

sementara itu, saya juga harus kejar-kejaran sama deadline studio dan pra tugas akhir yang menguras otak, tenaga, bahkan duit karena saya harus menyisihkan selembar demi selembar untuk bisa beli buku pendongkrak bualan-bualan teoritis di skripsweet saya nanti.

semester ini hore banget lah pokoknya! ya ya ya ya, saya tau, saya sendiri yg salah sok-sok maksain mau cepet2 lulus tanpa melihat kemungkinan (besar) bakalan banyak yang keteteran. aih, jangan sampe sih tapi. saya udah mulai males kuliah. males sama duduk dengerin dosen sama tugas-tugasnya, hehe. bosen. tapi masih tetep pengen duduk bego di innercourt kampus ngobrol dari kebodohan diri sendiri dan temen, latest fashion, cowok ganteng, curhat edisi galau, bahkan ngomongin indonesia yang diserang pencaplokan wilayah dan kebudayaan.

then, time flies. sooooo much faster than we've already thought before. why oh why, baru ngerasa sekarang kalo waktu yang lalu-lalu itu harusnya dilewati lebih dari sekedar makan bareng dan foto-foto. bahwa harusnya kalo emang mau kumpul ya kumpul. ngga kaya sekarang, mau makan bareng susahnya minta ampun karena udah sibuk sendiri-sendiri.

astaga! me no likey!

....

tapi justru di titik ini saya berharap, bahwa teman-teman yang saya temukan sekarang ini adalah teman-teman terbaik yang saya punya. yang dengan sisa-sisa waktu menuju garis finish yudisium ini, benar-benar menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa diandalkan untuk mendukung, menyemangati, bahkan memarahi saya kalo saya salah.

demi choi si won, adam levine, kim hee chul, james mcavoy, johnny depp, dan kawan-kawannya yang dianugrahi muka ganteng langit dan bumi, SAYA SAYANG SEMUANYA!! :D

so much to do, so little time. that what they said.
tapi saya yakin, saya masih punya waktu untuk menyempatkan diri mendengarkan cerita mereka kalau mereka membutuhkan saya. saya jamin! sesibuk apapun saya! karena saya ngga mau kehilangan lagi waktu-waktu bersama mereka. :)

last, thanks for being there for the last almost 4 years. it's not over yet. we just started again our engine to the future.

nanti, kalo udah wisuda semua, udah lulus, udah kerja, udah nikah, udah punya anak, yang mau ketemu saya, cari ke amerika yaa! haha! :D

 i definitely looooooove you all, class of 2008! :*