Ketika pelangi mulai muncul setelah hujan sore itu, lengkung
yang sama sepertinya juga berbaik hati untuk singgah di wajahku. Setangkai lily
berada di genggaman. Lagi seperti dua tahun yang lalu, dan kali ini tidak layu.
Tidak seperti dulu. Tidak seperti perasaan yang terbuang dulu. Perasaan radit
yang terbuang dulu.
Radit.
Yang satu ini memang masih bertahan pada pancangnya. Tidak
memberikan kepastian. Tapi menurutku, sudah cukup. Cukup dengan lily yang sama
ini, aku tahu. Aku juga harus bertahan pada porosku. Bahwa suatu saat nanti,
pasti ada waktunya.
“Gue ngga tahu, elo itu goblok atau buta, atau malah putus
asa, Ge! Ada juga orang minta mas kawin itu cincin, berlian, alat sholat, emas,
atau mobil sekalian noh macem Andi Soraya! Lah ini! Lily, sebatang doang!
Timbang gocap dua juga dapet!” Ence kembali mengeluarkan jurus bibir ibu
mertuanya yang paling dahsyat.
“Heh! Lo tahu apa soal mas kawin, Ce! Nyobain juga belum
pernah!” cerocos Kinar.
“Kambing lo! Ngga perlu kawin buat ngerti mas-mas! Apalagi
emas! Investasi itu pelru, darling! Bahkan jauh sebelum elo akhirnya sah jadi
suami istri!”
“Lo tahu? Investasi sebanyak apapun juga ngga bakal guna
kalo akhirnya jadi jejaka tua macem elo! Gue juga ngga tahu sih yaa, elo jejaka
atau capcuscin!”
“Sompret!”
Aku hanya bisa meringis melihat kelakuan mereka. Pikiranku
bagai dipenuhi helium, mengawang entah kemana, terbang semampunya, mengikuti
tiupan angin di luar sana. Setelah perang dingin kemarin, aku belajar banyak.
Bahwa tidak mungkin seorang Gendis berusaha tidak peduli dengan satu-satunya
orang yang tidak peduli betapa marahnya dia, namun tetap setia mengucapkan
selamat tidur setiap malam meski hanya melalui pesan super singkat. Aku belajar
banyak. Sedikit saja perhatian dari Radit, sudah jadi hadiah paling berharga
buatku, mengingat kesibukannya tidak kalah dengan artis ibukota.
“Eh, tante! Senyum-senyum mulu! Gila ngga tanggung, yeee!”
seloroh Kinar sambil melambai-lambaikan yangannya di depan wajahku.
“Emang udah gila, kali! Mau dikawinin gara-gara bunga doang!
Mending bunga bank!” samber Ence sambil mematut dirinya di kusen aluminium
jendela sebelah kami duduk.
Aku menghela nafas cukup panjang. Cukup untuk membuat Anet
melirik tajam jika tersengar di telinganya yang super sensitif itu. Aku mencoba
menyusun kata sebijak mungkin sebelum bersuara. Memang nggak tanggung-tanggung,
urusan begini pun aku masih bawa-bawa gengsi. Adalah sangat tidak classy bagiku
jika sudah terlalu lama melamun, tapi omongannya masih setara dengan isi
comberan macam dua orang di depanku ini.
“Lo tahu ngga, sih? Kalo elo yakin sama sesuatu, every
obstacles yang mendadak muncul di depan elo tuh bisa elo singkirin sekali
tebas? That’s me! Rite now!”
“I know, Ge! Gue kan juga yakin kalo Ence ngga akan nikah
seumur hidup!”
“Gue akan nikah, Cacing! Tapi minimal umur gue 35! Jangan
jahit kaen mulu makanya! Jahit itu otak sama mulut lo biar nyambung kalo
ngomong!”
Kinar terkikik puas setelah berhasil membuat Ence kesal,
kemudian buru-buru bergelayut pada lengannya yang dibungkus kaos lengan panjang
warna biru kesukaan Kinar. Sekilas teringat masa kuliah kami. Di mana kami
bertiga sibuk hura-hura di saat deadline melanda. Hasilnya tidak
tanggung-tanggung. Sama-sama masuk jurusan arsitektur, tapi hanya aku yang mau
jadi arsitek. Kinar buru-buru membelokkan setirnya ke fashion industry. Padahal
di antara kami bertiga, nilainya yang paling cemerlang dan sangat menjanjikan.
Sementara Kinar tenggelam di antara tumpukan kain dan benang jahit, Ence
memilih editorial jadi sumber uangnya. Sehingga omongannya tidak kalah kritis
dan nyinyir bagai seorang saudagar pelit yang enggan kehilangan sebutir berasnya
di gudang.
“Bukan itu maksud gue!! Gue sekarang ini jauh lebih merasa
ikhlas. Menerima. Bahkan hampir lewat batas ngga peduli, deh.. Radit mau
ngapain juga, hmmm, terserah.. Toh pada akhirnya dia akan selalu bersedia untuk
kembali lagi ke sebelah gue. Dengan begini kami bisa berkembang. Jadi gue ngga
perlu dengan labilnya bagai abg kurang gizi jaman sekarang, mikir sampe gila
kapan gue mau nikah. Umur berapa pun, pasti gue akan mencapai itu bersama
Radit.”
“Jangan seyakin itu, dear. Boleh yakin, tapi jangan lantas
menutup hati elo dengan warna seromantis itu. Tidak semua lalu indah saat kita
membubuhkan banyak-banyak warna pink dan biru muda. Lo boleh yakin seratus
persen bahkan lebih, kalo emang itu urusannya sama diri lo sendiri!”
“Ini kan emang tentang gue, Nar. Jodoh gue, kan? Artinya
gue-gue juga yang ngejalanin, kan?”
“Beda. Saat itu urusan elo, hanya elo yang ada di situ. Elo
yang jadi titik fokusnya. Di sini, elo bergantung sama keberadaan radit. Ya
kalo nantinya memang dia sejalan. Kalo tiba-tiba kalian ketemu pertigaan dan
dia milih belok ke kanan sementara elo kekeuh lurus gimana?”
“Nar! Lo sendiri yang kemaren nasehatin gue panjang lebar
ngga usah kemakan gengsi dan baikan sama Radit. Sekarang suruh hati-hati sama
Radit! Can you just stay the same with yesterday?”
“Mengalah, berdamai, tapi bukan gini caranya, sayang.. Yakin
itu bagus, tapi bukan lalu berarti pasrah! Inget materi praktek arsitektur dulu?”
“Lo ngga boleh nunggu doang! Harus bisa jemput bola! Cari
celah buat tunjukkin ide-ide lo!” sahut Ence tiba-tiba.
Aku terdiam. Susah mencari kata-kata untuk jadi tameng
omongan dua orang yang paling tahu di depan ku ini. Ence dan Kinar ngga bisa
dibohongin, mereka jauh lebih pinter dari logika ku yang pas-pasan. Jauh di
timbunan perasaan sok tenang dan sok tidak peduli ini, aku masih mengharap
kejelasan, bahkan kalau perlu menandai kalender di handphone masing-masing
tanggal berapakah aku harus mengepas gaun pengantin seperti yang sudah
dilakukan Anet beberapa waktu yang lalu. Bukan hanya sekedar obat penghilang
rasa sakit sementara.
Mungkin aku sudah kebanyakan menonton drama dan berharap
menjadi seorang tokoh utama wanita di dalamnya di mana pada akhirnya selalu
kembali ke pelukan kekasihnya dan menuju pelaminan begitu episode terakhir
disiarkan. Kadang aku iri, drama yang ceritanya begitu rumit pun jelas tenggat
waktunya. Jelas kapan si A akan menikah dengan si B, kapan si C bercerai dengan
si D, dan seterusnya. Aku bahkan tidak sabar menunggu. Mungkin terlalu takut
kisahku akan berlarut-larut dan sang sutradara memotongnya di tengah dengan
tiba-tiba karena habis biaya produksi, sehingga membuatku memilih cerita yang
jalan ceritanya mudah ditebak. Berusaha sebisa mungkin menyederhanakan cerita,
sehingga tidak menikmati kesenangan mengurai kerumitan yang seharusnya bisa
mengajariku banyak hal, menunjukkan padaku bahwa tidak semuanya mendapat alur
cerita yang begitu mulus.
“Gue ngga tau, Nar.. Gue terlalu ingin bermain simpel, gue
terlalu capek bergelut dengan segala kemungkinan ini itu yang membuat panik dan
ingin lari dari kenyataan..”
“Lo kelamaan pake kacamata kuda, yang lo lihat sekarang
Radit mulu. Nggak pake nengok kanan kiri! Bahkan hati kecil lo jarang banget elo tengok. Bukan begini
caranya, bukan jalan ceritanya yang harus sederhana.. Soal yang terlalu rumit,
belum tentu penyelesaiannya harus dengan rumus yang rumit juga kan..”
“Ah! Salah lagi, gue! Kapan sih bisa bener sekali aja?”
“Ngga salah! Inget itu! Lo udah pada posisi yang benar..
Tapi sekali lagi, bukan waktu yang tepat. Ada saatnya orang yakin banget sama
pola pikirnya. Yang macem gini, udah tau persis harus siap buat kecewa kalo
rencananya ngga sesuai sama kenyataan..,” Ence terdengar begitu waras sore ini.
“Coba yaaa, dulu gue iya-in aja nikah sama Radit dua tahun
lalu..”
“Itu bisaaa… Tapi mungkin lo sekarang malah udah cerai,
terus elo ngga setajir sekarang kan, dan ngga bisa belanja sepatu semau elo
gara-gara ngelewatin kesempatan jadi project manager di beberapa kota karena
elo cuti nikah, bahkan cuti hamil. Diiiih, anak lo mau makan apa coba? Terus
sekolahnya? Dikira murah kali mau belajar aja!”
Kinar mengikat rambutnya ke
atas, dalam hati aku berpikir mungkin dia juga harus mengikat mulutnya agar mulai
berhenti bicara. Mau tak mau aku tertawa juga, bocah yang satu ini memang
cerdasnya ngga ketulungan. Sakit sih lebih tepatnya.
‘Tapi gue dukung elo buat yakin, Ge,” lagi, Kinar membuatku
ikut terbolak-balik dengan jalan pikirannya, “Jadi, elo ngga perlu stress, lebih
menikmati hidup aja.. Inget prinsip gue yaaa, we don’t make a plan! We make
decision! Elo yang tanggung jawab sama kebahagiaan elo! They have no
responsibility, even no right! Inget, elo! Bukan orang laen! Dan bahkan bukan
orang tua lo, Ge!”
Kata-kata terakhir Kinar bagai menyegat kembali otakku yang
sudah habis setrum aki nya. Orang tuaku. Mungkin kisah mereka yang membuatku
takut. Takut mendapat kisah yang sama. Kata orang, buah jatuh tidak jauh dari
pohonnya. Ah, begitu menghakimi. Aku ingin sejauh mungkin dari orang tuaku.
Tidak ada sedikit pun keinginan untuk mengulang kisah mereka.
And here I am. With my two best buddies, yang mengingatkan
lagi bahwa akulah yang punya kendali atas segala apa yang sudah dan akan
kulakukan. Kadang aku iri dengan mereka berdua. Begitu impulsif, spontan, dan
santai menjalani hidup. Aku terlalu banyak menyusun rencana. At the end of the
day, aku hanya bisa harap-harap cemas dan selalu insecure serta merasa tidak
puas sama sekali. Ah, hidup. Kenapa begitu keras padaku?
Ah, Gendis. Kenapa begitu egois dan tidak
pernah puas?